- Peistiwa Bandung Lautan Api. Jelaskan sebab terjadi peristiwa, jalannya peristiwa, beserta foto tokoh-tokoh yang terlibat dalam peristiwa tersebut
- Peristiwa Linggarjati. Jelaskan jalannya pelaksanaannya, wakil delegasi masing-masing negara, dan isi perundingan. Sertakan foto Perundingan
- Perundingan Renville. Jelaskan jalannya pelaksanaannya, anggota KTN, wakil delegasi masing-masing negara, dan isi perundingan. Sertakan Foto Perundingan
- Jelaskan dampak perundingan Renville (17 Januari 1948) bagi bangsa Belanda dan dampak bagi Indonesia!
- Jelaskanlah faktor-faktor yang memaksa Belanda harus keluar dari Indonesia! Faktor dari dalam negeri Indonesia dan faktor dari luar negeri.
JAWABAN :
1. Berikut ini adalah penjelasan sebab peristiwa, jalannya peristiwa, beserta foto tokoh tokoh yang terlibat dalam Peristiwa Bandung Lautan Api :
Peristiwa Bandung Lautan Api adalah peristiwa kebakaran besar yang terjadi di kota Bandung, provinsi Jawa Barat, Indonesia pada 23 Maret 1946 Dalam waktu tujuh jam, sekitar 200.000 penduduk Bandung membakar rumah mereka, meninggalkan kota menuju pegunungan di daerah selatan Bandung. Hal ini dilakukan untuk mencegah tentara Sekutu dan tentara NICA Belanda untuk dapat menggunakan kota Bandung sebagai markas strategis militer dalam Perang Kemerdekaan Indonesia .
Disebabkan oleh kedatangan pasukan Sekutu pada tanggal 12 November 1945 dengan alasan untuk melucuti senjata tentara Jepang di Bandung tidak disukai oleh warga Bandung. Ditambah lagi setelah mereka memaksa penduduk Bandung untuk menyerahkan senjata yang diperolehnya setelah melucuti senjata tentara Jepang.
Setelah penandatanganan perjanjian kapitulasi Jepang, seluruh persenjataan Tentara Kekaisaran Jepang diserahkan tanpa syarat kepada Tentara Sekutu yang akan mengembalikan kekuasaan Belanda di Hindia-Belanda. Namun persenjataan Tentara Kekaisaran Jepang banyak direbut oleh pejuang kemerdekaan Republik Indonesia. Pada tanggal 20 November 1945, Tentara Sekutu mengeluarkan ultimatum pertama agar kota Bandung bagian utara dikosongkan oleh pihak Republik Indonesia selambat-lambatnya tanggal 29 November 1945. Para milisi dan pejuang kemerdekaan Republik Indonesia harus menyerahkan senjata yang mereka rampas dari Tentara Kekaisaran Jepang. Karena apabila ultimatum penyerahan tersebut tidak diindahkan, tentara Sekutu akan mengambil tindakan militer untuk menegakkan tujuan tersebut.
Peringatan ini tidak dihiraukan oleh pihak tentara Republik. Sejak saat itu sering terjadi bentrokan senjata dengan tentara Sekutu. Kota Bandung terbagi menjadi dua, Bandung Utara dan Bandung Selatan.. Oleh karena persenjataan yang tidak memadai, pasukan TKR dan para pejuang lainnya tidak dapat mempertahankan Bandung Utara. Akhirnya Bandung Utara dikuasai oleh tentara Sekutu.
Pada tanggal 23 Maret 1946 tentara Sekutu kembali mengeluarkan ultimatum ke-2. Mereka menuntut agar semua masyarakat dan pejuang TKR mengosongkan kota Bandung bagian selatan. Perlu diketahui bahwa sejak 24 Januari 1946, TKR telah mengubah namanya menjadi TRI.
Demi mempertimbangkan politik dan keselamatan rakyat, pemerintah memerintahkan TRI dan para pejuang lainnya untuk mundur dan mengevakuasi Bandung Selatan. setelah mengadakan musyawarah, para pejuang sepakat untuk menuruti perintah pemerintah. Tapi mereka tidak mau menyerahkan kota Bandung bagian selatan itu secara utuh.
Rakyat pun diungsikan ke luar kota Bandung. Para anggota TRI dengan berat hati meninggalkan Bandung bagian selatan.Sambil meninggalkan Bandung menuju luar kota arah selatan, para pejuang Bandung terus melakukan perlawanan sejak April 1946. Sasaran perlawanan, yaitu gudang-gudang mesiu yang telah dikuasai oleh Sekutu di Dayeuhkolot, Bandung Selatan.Perlawanan ini dipimpin oleh Mohammad Toha dan Mohammad Ramdhan. Muhammad Toha berhasil meledakkan gudang tersebut dengan dinamit. Gudang besar itu meledak dan terbakar bersama kedua milisi tersebut di dalamnya. Staf pemerintahan kota Bandung pada mulanya akan tetap tinggal di dalam kota, tetapi demi keselamatan mereka, maka pada pukul 21.00 itu juga ikut dalam rombongan yang mengevakuasi dari Bandung. Sejak saat itu, kurang lebih pukul 24.00 Bandung Selatan telah kosong dari penduduk dan TRI. Tetapi api masih membubung membakar kota, sehingga Bandung pun menjadi lautan api.
Pembumihangusan Bandung tersebut dianggap merupakan strategi yang tepat dalam Perang Kemerdekaan Indonesia karena kekuatan TRI dan milisi rakyat tidak sebanding dengan kekuatan pihak Sekutu dan NICA yang berjumlah besar. Setelah peristiwa tersebut, TRI bersama milisi rakyat melakukan perlawanan secara gerilya dari luar Bandung. Peristiwa ini mengilhami lagu Halo Halo Bandung yang nama penciptanya masih menjadi bahan perdebatan.Beberapa tahun kemudian, lagu "Halo Halo Bandung" secara resmi ditulis, menjadi kenangan akan emosi yang para pejuang kemerdekaan Republik Indonesia alami saat itu, menunggu untuk kembali ke kota tercinta mereka yang telah menjadi lautan api
Terdapat sebuah monumen yang terdapat di Bandung untuk mengenang Peristiwa Bandung Lautan api yang dipimpin oleh Mohammad Toha Monumen tersebut bernama Monumen Bandung Lautan Api. Monumen ini terletak di tengah tengah kota Bandung yaitu terletak di kawasan Lapangan Tegallega.Memiliki ketinggian 45 meter dan memiliki sisi sebanyak 9 bidang. Juga merupakan markah tanah Bandung dan menjadi salah satu monumen terkenal di Bandung dan selalu menjadi pusat perhatian setiap tanggal 23 Maret untuk mengenang Peristiwa Bandung Lautan Api .
ASAL ISTILAH
Istilah Bandung Lautan Api menjadi istilah yang terkenal setelah peristiwa pembumihangusan tersebut. Jenderal A.H.Nasution adalah Jenderal TRI yang dalam pertemuan di Regentsweg (sekarang Jalan Dewi Sartika), setelah kembali dari pertemuannya dengan Sutan Sjahrir di Jakarta, memutuskan strategi yang akan dilakukan terhadap Kota Bandung setelah menerima ultimatum Inggris tersebut.
Istilah Bandung Lautan Api muncul pula di harian Suara Merdeka tanggal 26 Maret 1946. Seorang wartawan muda saat itu, yaitu Atje Bastaman, menyaksikan pemandangan pembakaran Bandung dari bukit Gunung Leutik di sekitar Pameungpeuk, Garut. Dari puncak itu Atje Bastaman melihat Bandung yang memerah dari Cicadas sampai dengan Cimindi."Jadi saya kembali dari Jakarta, setelah bicara dengan Sjahrir itu. Memang dalam pembicaraan itu di Regentsweg, di pertemuan itu, berbicaralah semua orang. Nah, disitu timbul pendapat dari Rukana, Komandan Polisi Militer di Bandung. Dia berpendapat, “Mari kita bikin Bandung Selatan menjadi lautan api.” Yang dia sebut lautan api, tetapi sebenarnya lautan air." - A.H Nasution, 1 Mei 1997
Setelah tiba di Tasikmalaya, Atje Bastaman dengan bersemangat segera menulis berita dan memberi judul "Bandoeng Djadi Laoetan Api". Namun karena kurangnya ruang untuk tulisan judulnya, maka judul berita diperpendek menjadi "Bandoeng Laoetan Api"
Berikut ini adalah foto tokoh yang terlibat pada Peristiwa Bandung Lautan Api :
Mohammad Toha
do you have a picture about member of TKR or TNI on january 1946.
BalasHapus